| Tohary Magazine official website | Members area : Register | Sign in
My Facebook ti-zine.blogspot.com

Archives

Welcome

Assalamu'alaikum, Salam hangat bagi kawan-kawan semua terima kasih udah mampir diblog saya!
Terim Kasih atas kunjungan Anda, maaf web ini sedang dalam perbaikan, salam, Tohary
Tampilkan postingan dengan label Outside. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Outside. Tampilkan semua postingan

Melihat Pesta Panen di Amerika Serikat

Selasa, 27 September 2011

Melihat Pesta Panen di Amerika Serikat

HL | 27 September 2011 | 08:42660 50  7 dari 10 Kompasianer menilai menarik

1317096995150767630
Pintu masuk lokasi festival
HAMPIR di semua tempat di Indonesia, selalu bisa ditemukan tradisi pesta panen setiap tahunnya. Masyarakat Bugis-Makassar mengenal tradisi mappadendang untuk merayakan panen padi, masyarakat Tidore mengenal tradisi Legu Dau, masyarakat Buton mengenal tradisi Bongkaana Tao untuk menyatakan syukur atas hasil laut yang melimpah. Apakah Anda mengetahui bahwa masyarakat petani di Amerika Serikat juga merayakan pesta panen? Apakah sama dengan di Tanah Air? Inilah ceritanya.
Minggu lalu, saya diajak seorang kawan untuk menyaksikan Paw Paw Festival di tepi Lake Snowden, Athens, Ohio. Acara ini adalah pesta tahunan yang sengaja dibuat untuk memperkenalkan buah Paw Paw (asimina triloba), yang merupakan buah khas Athens. Selama tiga hari, berbagai komunitas Athens menggelar Festival Paw Paw ataupun aneka kreasi dengan buah Paw Paw.
1317086900429843223
buah Paw Paw (foto: Rashmi Sharma)
Tak hanya berpesta Paw Paw, warga Athens juga duduk bersama dan membahas bagaimana sejarah buah tersebut, serta bagaimana tantangan ke depannya. Mereka juga mengadakan kompetisi untuk mencari Paw Paw terbaik, serta lomba masak dengan Paw Paw. Semuanya meriah. Yang menarik, banyak acara edukasi. Ada pelatihan bagaimana membuat bibit yang baik, hingga bagaimana buah itu bisa digunakan sebagai herbal atau obat bagi jenis penyakit tertentu.
Makanya, di tepi Lake Snowden itu, tidak hanya terdapat panggung tempat diperdengarkannya musik-musik khas Amerika, tapi juga terdapat banyak tenda yang isinya informasi tentang Paw Paw, sejarah sosial kota Athens, serta pelatihan untuk meningkatkan produktivitas para petani. Tidak heran jika di situ banyak terdapat tenda besar yang isinya para petani duduk bersama untuk belajar bagaimana memperoleh panen yang lebih optimal.
Selain menampilkan buah Paw Paw sebagai tampilan utama, festival ini juga menampilkan berbagai hasil panen terbaik dari seluruh petani atau pekebun di Athens. Saat berkeliling di berbagai tenda, saya sering terperangah menyaksikan buah-buahan dengan kualitas nomor satu. Saya sempat melihat buah labu (pumpkin)berukuran raksasa. Pemilik labu itu, Jeff, dengan senang hati bercerita bagaimana kiat-kiatnya bisa sukses menanam labu dan memanennya. Ia tidak mau menyembunyikan informasi sebab ia juga mendapatkan informasi itu melalui festival. Makanya ia hendak menyebarkan pengetahuan itu kepada banyak orang. “Supaya banyak yang berhasil seperti saya,”katanya.
Sebagai acara tahunan, festival, yang didukung oleh banyak lembaga termasuk Ohio University, juga memberikan informasi tentang perkembangan yang dicapai per tahunnya. Makanya, semua petani dan pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat bisa memberikan penilaian sejauh mana dialog atau apa saja yang dicapai per tahunnya. Panitia menetapkan target yang jelas, serta informasinya disebarkan kepada semua pihak melalui website serta pamphlet di seluruh penjuru Kota Athens. Cara kerja panitia sangatlah detail. Mereka juga memberikan informasi tentang jadwal kendaraan umum yang mengangkut semua pengunjung festival. Saya pun memanfaatkan fasilitas kendaraan gratis dari kampus Ohio University.
13170869881398023070
buah labu raksasa (foto: Rashmi Sharma)
Gerakan Sosial
Yang mengejutkan, festival ini tidak sekedar pesta panen, melainkan ajang bagi berbagai elemen gerakan sosial untuk memamerkan apa yang sudah mereka lakukan, ajang untuk menarik simpati, serta dukungan masyarakat, serta beberapa lembaga yang hendak mempertahankan warisan budaya yang nyaris punah. Makanya, saat mengunjungi festival ini, saya mendapatkan gambaran bagaimana masyarakat sipil di Athens, mengelola gerakan, saling memberikan pemahaman, serta mengkonsolidasikan diri untuk menolak satu peraturan.
13170870931037913111
tenda gerakan sosial
13170872041032980111
tenda gerakan sosial
Saya melihat banyak stand di situ. Ada kemah yang bertemakan Community Resilience yang didalamnya terdapat diskusi tentang rural action (gerakan desa), energi bagi warga (local energy), hingga kelompok perdamaian (peace community). Saya lalu singgah di satu stand. Di situ terpampang banyak poster yang berisikan banyaknya peraturan di Amerika yang justru memihak para pemilik modal, sementara masyarakat dibiarkan bergelut dengan limbah industri. Di stand itu ada diskusi apakah sepakat atau tidak dengan gerakan itu. Jika sepakat, maka selanjutnya akan saling kontak untuk menyatakan sikap pada pemerintah. Ini jelas hal yang menarik buat saya. Sebab selama ini, saya hanya melihat aksi-aksi yang diasari atas hal-hal yang reaktif semata pada satu isu. Sementara di Amerika, bahkan para petani pun belajar untuk mengkoordinasi diri dan mengelola gerakan social.
1317087610492154195
anti perusahaan (foto: Rashmi Sharma)
Yang juga menarik adalah saya melihat banyak stand komunitas Indian, lengkap dengan tenda, serta aksesoris yang dijual pada pengunjung. Para generasi baru Indian itu dengan getir mengisahkan sejarah terusirnya nenek moyang mereka pada masa silam, serta bagaimana mereka di masa kini mempertahankan kebudayaannya. Para Indan itu lalu menampilkan tari tradisional, memainkan music tradisional, serta memperkenalkan kostum para ksatria Indian di masa silam.
Secara umum, saya sangat menikmati suasana Paw Paw Festival ini. Festival ini juga telah mengejutkan saya. Sebab pesta panen, yang saya ketahui, identik dengan atraksi budaya atau makan-makan sebagai rasa syukur. Tapi warga Athens justru berpikir ke depan. Mereka berpikir bahwa selain menampilkan potensi hari ini, maka perlu ada upaya serius untuk mengadvokasi banyak hal sehingga masa depan Athens bisa direncanakan dengan baik.
Kalaupun tak sepakat dengan gerakan itu, tidak jadi masalah. Ibarat sebuah mal, maka pengunjung bebas memilih stand mana saja yang akan dikunjungi. Sementara bagi yang berniat untuk mendengarkan music, maka pilihannya adalah menuju panggung yang menampilkan folk music serta music-musik tradisi baik yang pernah Berjaya di masa silam, maupun music yang tengah trend di masa kini.
Keberadaan stand gerakan social itu kian menegaskan hakekat festival sebagai milik masyarakat luas, bukannya milik negara. Berbagai elemen gerakan social itu menyadari bahwa masyarakat berasal dari berbagai lapisan. Meyakinkan mereka secara persuasive, jauh lebih baik daripada aksi bakar-bakar ban, menutup jalan raya, atau berteriak-teriak di jalan demi menyatakan sikap pada rezim. Iya khan?

Kembara Eropa 4: Tips Mencari Akomodasi Murah dan Meriah


Kembara Eropa 4: Tips Mencari Akomodasi Murah dan Meriah

REP | 28 September 2011 | 04:4726  Nihil

13171591721860857614
Hostel YHA di Ambleside, Lake District, Cumbria (Foto: BM)
Sudah lama saya tidak menulis tentang tips kembara. Seharusnya saya melanjutkan tips transportasi umum di kota-kota Eropa yang lain seperti yang dijanjikan. Akibat dari kendala pekerjaan yang banyak, maka artikel itu belum berhasil lagi. Saya melanjutkan tips kembara Eropa kali ini dengan tips mencari akomodasi yang murah dan meriah untuk ‘backpackers’.
‘Backpackers’ adalah pengembara yang dikategorikan ‘miskin’ karena anggaran belanja yang terbatas.Tetapi karena semangat yang kuat untuk melihat dunia lain, akomodasi bukan menjadi masalah utama pada para ‘backpackers’. Apa yang penting ialah tempat tinggal untuk tidur dan mandi. Kebanyakan waktu dihabiskan untuk berjalan-jalan dan menikmati tempat baru yang serba berbeda. Pengalaman ‘backpackers’ amat berbeda dengan wisatawan yang berjalan-jalan dengan ‘travel agent’ yang semuanya tersedia. Apa yang harus wisatawan lakukan hanya ikut jadwal dan ikut bendera ‘tourist guide’ ketika berkeliling di pusat wisata. Belainan dengan ‘backpackers’ yang harus siap dengan ‘itinerary’ dan mencari akomodasi sendiri.
Adalah menjadi kebiasaan untuk ‘backpakers’ yang tidur di bandara, di stasiun kereta atau di dalam bus.Saya juga sering tidur di bandara Stansteds, London karena tiket murah pesawat biasanya adalah untuk perjalanan diawal pagi. Saya juga pernah tidur di dalam kereta ketika dalam perjalanan antara Bukares dan Sofia. Semua itu sudah menjadi asam garam para ‘backpackers’.
Jika berkunjung ke negara Eropa, biaya akomodasi adalah sesuatu yang mahal. Apalagi di negara-negara Eropa Barat yang menggunakan Pound dan Euro. Hotel yang paling murah di London sekitar £ 80-100 semalam. Di Perancis, Belanda dan Jerman juga harga hotel sangat mahal dan tidak terjangkau untuk ‘backpackers’ yang miskin. Oleh itu hostel dan B & B (Bed and Breakfast) menjadi pilihan para ‘backpackers’ yang berkelana.
131715947365669850
Logo di YHA Manorbier, Pembrokeshire (Foto: BM)
Hostel yang bagus dan banyak dengan aktivitas adalah Youth Hostel Association (YHA). Di setiap kota besar di Eropa biasanya akan ada sebuah YHA. Hostel di bawah gabungan YHA harus sesuai persyaratan yang ditetapkan seperti fasilitas yang standar untuk sebuah hostel dan kebersihan.Memang menjadi ‘favourite’ saya setiap kali bepergian akan memilih YHA. Namun, tarifnya agak mahal sedikit dibandingkan ‘independence hostel’ yang lain. Saya pernah menginap di YHA Faro di Portugal,Jenewa dan Bern di Swiss, Dublin di Republik Irlandia, Amsterdam di Belanda, Wellington danChristchurch di Selandia Baru dan di beberapa kota seluruh Inggris.
YHA memberikan prioritas kepada pemegang kartu keanggotaannya (membership cardholder) ketika memesan kamar atau bed. Untuk yang bukan anggota, hostel YHA akan mengenakan biaya tambahan € 2.00 untuk setiap malam yang mereka tempah. Untuk menghemat uang Anda, bakal ‘backpackers’ disarankan memohon keanggotaan YHA di negara masing-masing. Biasanya setiap negara memiliki YHA sendiri dan kartu tersebut diakui dimana-mana hostel YHA di seluruh dunia. Saya memiliki kartu YHA Malaysia untuk seumur hidup dengan biaya sebesar RM200 (sekarang RM300). Kartu seumur hidup lebih murah dibandingkan kartu untuk 1 tahun yaitu (RM70 + RM10 biaya administrasi). Saya tidak pasti berapa biaya untuk memiliki kartu YHA Indonesia. Mungkin kompasianer Indonesia memiliki informasi yang bisa di kongsi bersama. Selain itu, ada banyak kelebihan memiliki kartu YHA seperti diskon 10% ketika memesan kamar dan lain-lain lagi.
Pemesanan kamar dan bed hostel YHA bisa dilakukan secara online. Setiap YHA memiliki website masing-masing untuk memudahkan urusan pemesanan dilakukan. Anda juga bisa melakukan pemesanan melalui website Hosteling International (HI)HI adalah merek untuk hostel YHA di 90 negara yang memiliki lebih 4.000 buah hostel semuanya. Tidak semua ‘youth hostel’ menggunakan nama YHA karena ada juga menggunakan nama lain seperti MYHA (Malaysia Youth Hostel Association)An Oige di Republik Irlandia dan Stay Ok di Belanda. Untuk memudahkan, semua ‘youth hostel’ dijenamakan dibawah satu payung yaitu Hoteling International dengan logo segitiga berwarna biru.
13171595281577173487
Logo Hosteling International (Foto: BM)
Harga kamar atau bed berbeda sesuai negara dan lokasi hostel tersebut. Harga kamar lebih mahal dibandingkan harga bed. Harga bed di dalam sebuah dorm lebih murah karena ia memuat antara 8 sampai 20 buah bed. Harga untuk sebuah bed di YHA London misalnya sekitar £ 26.00 per malam dan dinegara-negara Eropa yang lain harga yang paling murah sekitar £ 12.00. Ada banyak fasilitas yang tersedia di hostel YHA-HI termasuk internet gratis, dapur untuk memasak, ruang untuk menonton televisi dan ruang permainan. Biasanya permainan yang tersedia seperti meja pool, table football dan lain-lain lagi. Kebanyakan hostel YHA-HI menyediakan sarapan yang sudah termasuk dengan harga pemesanan kamar atau bed.

Entri Populer

Categories

Visitor

Pengikut

 

Labels 3

Labels 2