| Tohary Magazine official website | Members area : Register | Sign in
My Facebook ti-zine.blogspot.com

Archives

Welcome

Assalamu'alaikum, Salam hangat bagi kawan-kawan semua terima kasih udah mampir diblog saya!
Terim Kasih atas kunjungan Anda, maaf web ini sedang dalam perbaikan, salam, Tohary

Hikmah Siang: Iblis dan Ibnu Ummi Maktum

Kamis, 20 Oktober 2011

Hikmah Siang: Iblis dan Ibnu Ummi Maktum

Rabu, 19 Oktober 2011 13:14 WIB
Oleh Syahruddin El-Fikri

Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah seorang sahabat yang mulia. Dia menjadi salah satu sebab turunnya surah 'Abasa. Suatu hari, Abdullah bin Ummi Maktum mengikuti pengajian Rasulullah SAW. Dalam kesempatan itu, Rasul menyampaikan akan kewajiban setiap Muslim yang mendengar azan untuk segera menunaikan shalat. Karena kondisi fisiknya, yakni matanya yang buta, ia memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah SAW.

"Wahai Rasulullah SAW, apakah saya juga diwajibkan kendati saya tidak bisa melihat?" tanya Ibnu Ummi Maktum. Rasul menjawab, "Apakah kamu mendengar seruan azan?" Ibnu Ummi Maktum menjawab, "Ya, saya mendengarnya." Rasul pun memerintahkannya agar ia tetap pergi ke masjid meskipun sambil merangkak.

Maka, dengan penuh keimanan, setiap azan berkumandang dan waktu shalat tiba, ia pun segera pergi ke masjid dan berjamaah dengan Rasulullah SAW. Suatu ketika di waktu Subuh, saat azan dikumandangkan, Ibnu Ummi Maktum pun bergegas ke masjid. Di tengah jalan, kakinya tersandung batu hingga akhirnya mengeluarkan darah. Namun, tekadnya sudah bulat untuk tetap berjamaah ke masjid.

Waktu Subuh berikutnya, ia bertemu dengan seorang pemuda. Pemuda tersebut bermaksud menolongnya dan menuntunnya ke masjid. Selama berhari-hari, sang pemuda ini selalu mengantarnya ke masjid. Ibnu Ummi Maktum pun kemudian ingin membalas kebaikannya. "Wahai saudaraku, siapakah gerangan namamu. Izinkan aku mengetahuimu agar aku bisa mendoakanmu kepada Allah," ujarnya.

"Apa untungnya bagi Anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau doakan," jawab sang pemuda. "Jika demikian, cukuplah sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau engkau menolongku lagi sebab engkau tak mau didoakan," tutur Ibnu Ummi Maktum kepada pemuda itu.

Maka, sang pemuda ini pun akhirnya mengenalkan diri. "Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis," ujarnya. "Lalu mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku ke masjid. Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk ke masjid?" tanya Ibnu Ummi Maktum lagi.

Sang pemuda yang bernama iblis itu kemudian membuka rahasia atas pertolongannya selama ini. "Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau terjatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau jatuh lagi Allah akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini," jawab iblis tersebut.

Kisah di atas menggambarkan kepada kita bahwa sesungguhnya iblis tak akan pernah berhenti untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Dalam hal yang baik pun, iblis selalu berusaha untuk membelokkan orang yang beriman ke arah yang dimurkai Allah. Ketahuilah, sesungguhnya iblis itu adalah musuh yang nyata bagi kita. (QS Fatir [35]: 6). Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridai setiap ibadah kita. Amin. Wallahu a'lam.
Redaktur: Siwi Tri Puji B

Hasyim Muzadi Minta Liberalisasi Agama Diperhatikan Serius

Hasyim Muzadi Minta Liberalisasi Agama Diperhatikan Serius

Kamis, 20 Oktober 2011 18:50 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK - Mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mengatakan bahwa liberasasi agama perlu mendapatkan perhatian serius karena dapat mengakibatkan dampak buruk dalam kebangsaan.

"Liberalisasi agama memiliki dampak yang bahaya bagi Aqidah Islam terutama dikalangan kaum muda," kata Hasyim dalam acara 'Training of Trainers' Ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia di Pesantren Al-Hikam, di Depok, Kamis (20/10).

Ia mengatakan liberalisasi agama telah menjadikan objek sasarannya pada dua ormas besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Secara makro liberalisasi agama adalah bagian dari liberalisme ekonomi, liberalisme politik dan lainnya.

Menurut dia organisasi Jaringan Islam Liberal (JIL) meminta agar subsidi untuk minyak dicabut, sehingga menjadi pertanyaan kenapa liberalisasi agama dikaitkan dengan liberalisasi ekonomi. Dengan istilah segitiga liberal yaitu liberalisme agama, liberalisme politik dan ekonomi.

Hasyim Muzadi yang menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) International Conference of Islamic Scholar (ICIS) ini menilai Indonesia saat ini dipojokkan dan diganggu.

Dikatakannya demokrasi yang sudah berjalan saat ini mendapatkan ujian. Ibarat perahu, kita ini diombang-ambing di tengah laut lepas dibiarkan tanpa ada penunjuk arah.

Ia mengatakan salah satunya adalah melalui Islam yang moderat yaitu antara liberal dan radikal. Dengan kata lain, sambungnya, NU yang terkenal moderat bisa menjadi jalan tengah diantara dua gerakan tersebut.

Dikatakannya hal tersebut bisa melalui cara mengumpulkan khazanah pemikiran walisongo dan ulama untuk didokumentasikan secara baik.

Sementara itu, Mantan Wakil Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Asad said Ali mengatakan liberalisasi agama membahayakan tatanan kehidupan, karena segala sesuatu dinilai berdasarkan dengan materi.

Dia menconthkan dikalangan barat sering menggunakan istilah "Time is Money". Istilah tersebut, menjadikan segala sesuatu dinilai dari sisi materi saja. "Ini tentunya dapat mengikis dan membahayakan karakter budaya kitam" ujarnya.

Dikatakannya mengubah pola pikir melalui jati diri sendiri sebagai bangsa Indonesia dalam konteks kebangsaan. "Islam rahmatan lil alamin merupakan solusi," ujarnya.

Sourch:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/10/20/ltd4w6-hasyim-muzadi-minta-liberalisasi-agama-diperhatikan-serius

Download Materi Sistem Politik Indonesia

Jumat, 14 Oktober 2011

Download Materi Sistem Politik Indonesia
Silakan, kantun di klik aja... ;-)

Download Disini!

Jangan Lupa Sebarkan yah...
thanks kawan.

Teriak Allahu Akbar, Kepalkan Tangan, Lalu Tugas ke Daerah

Sabtu, 01 Oktober 2011

Teriak Allahu Akbar, Kepalkan Tangan, Lalu Tugas ke Daerah

Thola'al badru 'alayna.
Min-tsaniyyatil wada'
Wajabasy syukru 'alayna.
Ma da'a lillahi da'

Ayyuhal mab'u-tsu fiina.
Ji'ta bil amril mutho'
Anta ghow-tsuna jami'a.
Ya mujammalath thiba'

Bunyi shalawat Thola'al badru mengalun merdu ketika 37 kader dai memasuki ruangan, Sabtu (9/24/2011). Mereka mengenakan gamis panjang dan songkok yang serba putih. Langkah mereka tampak tegap dan mantap. Para tamu undangan sibuk memotret sekenanya dengan handphone. Alunan shalawat pun berhenti ketika mereka telah menempati tempat duduk.
Suasana ruangan yang terisi sekitar dua ratus lebih tamu undangan itu mendadak khidmah. Pandangan mereka fokus ke depan. Lebih-lebih ketika, M Gatot Manisya Abab, pembawa acara membuka prosesi sakral itu. Keramaian pun berganti suasana penuh haru.
Di antara tamu undangan yang hadir itu, Muhammad Sudding, ayah dari kader dai Abdurrahman Sudding salah satunya yang merasa paling bahagia. Sejak tadi, pandangannya tak pernah lepas dari anak tercintanya yang duduk di antara deretan kader dai di depannya. Tampak dilihatnya lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca.
“Saya bangga dan bersyukur anakku sudah jadi sarjana. Dan lebih bersyukur lagi, sekarang dia menjadi dai yang akan ditugaskan keluar daerah,” ujar bapak asal Balikpapan, Kalimantan Timur ini kepada hidayatullah.com dengan mantap.
Dalam acara itu, bapak asal Sulawesi ini datang langsung dari Balikpapan, Kaltim bersama anaknya, Rauf. Meski ongkos tiket pesawat mahal, tapi karena acara itu penting maka dipaksakan datang.
“Saya usahakan untuk datang. Tapi, hanya dengan anak. Ibu nggak bisa ikut. Ia hanya titip salam saja,” tuturnya.
Menurut ayah lima anak ini, sudah sejak lama ia inginkan anaknya menjadi dai. Dai, katanya pekerjaan sangat mulia. Karena itu, usai selesai SMA, Abdurrahman Sudding dikirimkan ke STAIL Surabaya. Ia pun ikhlas dan pasrah bila mana anaknya ditugaskan ke daerah terpencil.
“InsyaAllah ikhlas. Dimana pun tempat tugasnya. Toh, Allah akan selalu menolongnya,” ungkapnya penuh yakin.
Jauh dekat baginya sama saja: sama-sama berjuang mendakwahkan Islam. Meski risiko akan jarang ketemu. Sejak kuliah selama empat tahun saja, katanya, Abdurrahman baru sekali pulang kampung. Apa ada rasa kangen?
“Tentu ada. Tapi toh bisa diobati dengan nelpon. Kangen itu sudah risiko perjuangan. Tak masalah,” ujar lekali paruh baya yang memiliki jenggot panjang dan putih itu.   
Keinginannya agar anaknya menjadi dai betul-betul ditunjukkan Muhammad Sudding. Pasalnya, tidak hanya Abdurrahman, ia juga menguliahkan Rauf ke kampus yang terletak di Keputih, Surabaya itu. Kini Rauf duduk di semester lima.
“Saya berharap mereka semuanya menjadi dai, pejuang Allah,” harapnya.
Muhammad Sudding adalah warga pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Sehari-hari sibuk sebagai takmir masjid Arriyad dan dapur umum.
STAIL adalah Perguruan Tinggi milik organisasi Hidayatullah. Selain menyediakan program ekstensi (umum), PT ini juga menyediakan program khusus beasiswa (reguler). Untuk program reguler, mahasiswa mendapat beasiswa penuh selama kuliah dan mendapat program kaderisasi secara khusus.
"Jadi mereka tidak saja diwisuda, tapi juga ditugaskan  ke daerah-daerah di seluruh Indonesia," kata Ketua Bidang Akademik, Masyhud, M.Si.
Masa penugasan, kata Masyhud selama lima tahun, atau dihitung masa kuliah empat tahun plus satu tahun.
"Tapi itu secara formal untuk megambil ijazah asli. Kalau pengabdiannya diharapkan bisa seumur hidup mengabdi," ujarnya.
PT ini baru memiliki dua jurusan, dakwah dan tarbiyah. Kini, ada seratus lebih mahasiswanya dari berbagai daerah.
Sejam lebih acara berlangsung, tapi waktu seolah lambat berputar.  Muhammad Sudding dan orangtua kader dai lainnya tampak masih melihat anak mereka lekat-lekat ketika Ketua Bidang Pendidikan Hidayatullah, Drs. Ali Imron membacakan Surat Keputusan Penugasan.
Ada perasaan bak gado-gado di dada mereka: ya terharu, ya was-was, dan paling menggelitik, menegangkan! Pasalnya, hari ini anak mereka akan ditugaskan entah ke daerah mana. Dan, itu berarti bakal jauh dari mereka.   
Ali Imron membuka map bersampul batik yang berisi SK sambil mendekatkan mikrofon ke mulutnya. Dengan mengucap basmalah, ia pun mulai membaca SK tersebut. Peserta mendengrkan penuh khidmah. Wajah kader dai terlihat tegang.  
Usai membacakan SK, ia memberikan pesan singkat. Katanya, ada tiga kunci sukses bagi kader dai di tempat tugas. Yaitu: jujur, berani, dan bekerja keras.
“Jangan bermimpi sukses kalau tidak memiliki ketiga hal ini,” tegasnya.
Menurutnya ketiga hal tersebut kini jarang dimiliki anak bangsa. Karena itu, wajar bila Indonesia jauh tertinggal bila dibanding negara tetangga seperti, Singapura dan Malaysia.
Ia pun menceritakan pengalamannya beberapa waktu lalu ketika berada di pelataran Masjidil Haram, Makkah bertemu dengan orang-orang Melayu. Tahu jika ia datang dari Indonesia, mereka langsung mengucapkan kata terimakasih.
Imron bingung. Kenapa harus berterimakasih kepadanya? Tapi ia merasa kaget ketika orang Melayu dari Singapura dan Malaysia itu bilang, “Gara-gara banyak orang Indon di negeriku, negeriku menjadi bersih."
“Tidak malukah kalian dengan ungkapan terimakasih itu,” tanyanya.
Imron pun menjelaskan kenapa Singapura dan Malaysia bisa maju, bahkan melebihi Indonesia.
“Mereka bekerja keras dan berani mengambil risiko. Kalau kalian ingin menjadi dai sukses, beranilah. Jangan takut mengambil risiko,” tegasnya.
Tepat pukul 10.30 acara yang dinanti-nanti akhirnya tiba: pembacaan tempat tugas kader dai. Rona wajah kee 37 kader dai yang duduk di pojok ruangan tampak berubah. Mereka merasakan sesuatu yang membuat jantung mereka berdebar-debar hebat.
“Ini detik-detik yang menegangkan,” ujar salah seorang tamu undangan.
MC pun memanggil satu persatu kader dai. Ia memanggil Syarif Hidayatullah, kader dai asal Sulawesi Barat. Beberapa detik Syarif mematung di atas panggung. Jantungnya seolah berdetak lebih cepat. Sebelum ketegangan itu meledak, MC pun melanjutkan lagi, “Syarif Hidayatullah, dengan daerah tugas, Papua Irian Jaya,”.
Syarif pun mengumandangkan takbir “Allahu Akbar” dengan mengepalkan tangannya ke atas. Diikuti teman-temannya. Tapi, tidak semunya mengucapkan takbir taklala dibacakan tempat tugas. Ada yang hanya diam, berkata “Subhanallah”, “Alhamdulillah,” dan ada juga yang sujud syukur.
Akhirnya teka-teki tempat tugas terjawab sudah. Ada yang di Papua yang terkenal nyamuk malariannya, ada yang di Ambon kota yang baru saja terjadi konflik, dan ada juga yang Sumatera. Meski berat melepas anak mereka, umumnya para orangtua pun lega.
Acara diakhiri dengan pembacaan lagu “Selamat Tinggal Sahabatku” dari Izzatul Islam. Suara mereka terdengar serak. Terlihat ada yang mengalir bening dari kelopak mata mereka.   
Selamat tinggal sahabatku
Ku kan pergi berjuang
Menegakkan cahaya Islam
Jauh di negeri Seberang

Selamat tinggal sahabatku
Ikhlaskanlah diriku
iringkanlah doa restumu
Alloh bersama slalu

Kuberjanji dalam hati
Untuk segera kembali
Menjayakan negeri ini
Dengan ridho Ilahi

Selamat tinggal sahabatku
Ku kan pergi berjuang
Menegakkan cahaya Islam
Jauh di negeri Seberang

Selamat tinggal sahabatku
Ikhlaskanlah diriku
iringkanlah doa restumu
Alloh bersama slalu

Kalaupun tak lagi jumpa
Usahlah kau berduka
Semoga tunai cita - cita
Raih gelar syuhada*

Beasiswa BCA Finance Untuk Mahasiswa S1

Beasiswa BCA Finance Untuk Mahasiswa S1



Rate This
Jika kamu adalah mahasiswa S-1 yang memiliki prestasi akademik yang baik namun memiliki kesulitan dalam masalah keuangan, tersedia jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut.
Setelah sukses dengan program di tahun sebelumnya, kali ini anak usaha Bank BCA kembali memberikan beasiswa kepada 40 mahasiswa berprestasi baik yang berasal dari kalangan keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu.
Program beasiswa BCA Finance 2011 ini terbuka bagi kamu mahasiswa S-1 dari seluruh universitas di Indonesia, baik negeri maupun swasta yang minimal telah atau sedang menyelesaikan pendidikan semester dua. Perlu diingat, beasiswa ini tidak diperkenankan bagi kamu yang tengah menerima beasiswa dari pihak manapun.Untuk formulir beasiswa, dapat kamu unduh pada laman www.bcafinance.co.id. Setelah mengisi formulir tersebut, siapkan berkas-berkas pendukung yang diperlukan, yakni:
  1. Transkrip nilai semester terakhir dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00 untuk perguruan tinggi negeri (PTN) dan 3,40 bagi kamu yang berasal dari perguruan tinggi swasta (PTS).
  2. Surat keterangan tidak mampu dari institusi berwenang dari daerah yang sesuai dengan KTP mahasiswa.
  3. Fotokopi kartu mahasiswa dan KTP.
Setelah memastikan semua berkas yang diperlukan telah lengkap, kirimkan dalam amplop ke alamat PT BCA Finance Up Corporate Planning, Wisma BCA Pondok Indah Lt 8, Jalan Metro Pondok Indah Nomor 10, Jakarta 12310.
Jangan lupa letakkan formulir pendaftaran yang telah kamu isi di paling atas dalam susunan berkas yang akan kamu kirimkan. Serta tuliskan nama universitas, fakultas, dan program studimu di sudut kiri atas amplop.
Beasiswa ini akan diberikan sejak kamu dinyatakan sebagai penerima beasiswa hingga menyelesaikan pendidikan program sarjana atau semester delapan. Berminat? Segera daftarkan dirimu karena berkas persyaratan pendaftaran paling lambat diterima pada 14 Oktober 2011. | okezone

Entri Populer

Categories

Visitor

Pengikut

 

Labels 3

Labels 2