| Tohary Magazine official website | Members area : Register | Sign in
My Facebook ti-zine.blogspot.com

Archives

Welcome

Assalamu'alaikum, Salam hangat bagi kawan-kawan semua terima kasih udah mampir diblog saya!
Terim Kasih atas kunjungan Anda, maaf web ini sedang dalam perbaikan, salam, Tohary

Nabi Saja, Memperlakukan Istrinya Secara Halus

Sabtu, 01 Oktober 2011

Nabi Saja, Memperlakukan Istrinya Secara Halus

 
Kamis, 29 September 2011

SUNGGUH, tidak ada figur yang menjamin pengikutnya akan bahagia dalam segala hal selain Rosulullah saw. Dan, pasti bahwa tidak ada petunjuk yang bisa dijamin kebenarannya selain al-Qur’an al-Karim. Keduanya memberikan solusi terbaik bagi seluruh jenis persoalan yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah rumah tangga.
Dalam upaya membina rumah tangga bahagia Rosulullah juga memberikan teladan yang jelas dan mudah untuk dilaksanakan. Andaikata ada orang yang tidak pernah bertemu lawan jenisnya kemudian menikah, jangan khawatir, tips dari Rosulullah akan memberikan hasil yang baik daripada lawan jenis yang mengerti banyak teori rumah tangga namun tak mengikuti petunjuk nabi.
Kebahagiaan berumah tangga sangat mudah kita raih manakala kita benar-benar mengerti bagaimana Rosulullah saw memberikan teladan kepada kita selaku umatnya.
Dan, yang paling penting adalah kesiapan dan komitmen kita dalam meneladani kehidupan rumah tangga beliau.
Masalahnya, generasi sekarang, cenderung kurang memperhatikan masalah tuntunan interaksi suami istri di dalam kamar. Akibatnya mereka tak mampu meraih kebahagiaan yang didambakan. Jika dibiarkan lambat laun kondisi tersebut akan menimbulkan terjadinya perselisihan. Perselisihan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Tidak dapat dipungkiri, salah satu pemicu perselisihan yang sering dialami dalam berumah tangga, khususnya rumah tangga muda, yakni adanya ketidakpuasan pola interaksi suami istri di dalam kamar.
Bagaimanapun hal ini tidak bisa dianggap sepele. Sebab tidak sedikit fakta menunjukkan bahwa seringkali rumah tangga hancur berantakan karena perkara yang satu itu.
Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim kita wajib membina keluarga bahagia (sakinah mawaddah wa rahmah). Bagaimana cara mewujudkannya? Uraian singkat berikut ini insya Allah akan membantu pembaca untuk meraih kebahagiaan rumah tangga.
Nikmat Itu Ibadah
Menikah adalah sunnah Nabi. Dan, menjalankan hubungan intim merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan agama dan bernilai pahala yang sangat besar.
Karenanya, jima’ (hubungan intim) dalam ikatan pernikahan adalah jalan halal yang disediakan Allah untuk menyalurkan naluri jasmaniahnya agar terhindar dari perilaku yang menyerupai binatang atau bahkan lebih buruk lagi.
Rosulullah SAW pernah bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rosulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rosulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah).
Awali Dengan Doa
Sebagai seorang Muslim tentu kita diwajibkan untuk selalu mengawali pekerjaan dan menyudahi pekerjaan dengan membaca doa. Perihal hubungan suami istri juga ada doanya. Hal ini menjadi satu bukti bahwa Islam benar-benar agama yang sempurna.
“Dari Abdullah bin Abbas ra, Rosulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang kamu ingin berjima’ dengan istrinya, hendaklah ia membaca: بسمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا (Bismillah, Allahumma jannibnaa asy-syaithana wa jannibi asy-syaithana ma rozaqtanaa).” (Dengan nama Allah, Yaa Allah jauhkanlah syetan dari kami dan jauhkanlah syetan dari apa yang Engkau rizqikan kepada kami). Maka seandainya ditakdirkan dari hubungan itu seorang anak, anak itu tidak akan diganggu syetan selama-lamanya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Itulah yang membedakan generasi Islam dengan orang diluar Islam. Bahkan di kamar dan hendak berkumpul dengan istripun, ada adab dan doa-doa yang dianjurkan.
Masalahnya, banyak generasi Islam kurang paham anjuran agamanya sendiri. Mereka kurang mengerti adab-adab Islam, termasuk adab dalam menggauli Istrinya.
Seorang ulama pernah mengatakan, saat ini banyak lahir anak-anak yang tidak memiliki kesopanan, tata krama dan tak mengenal budi pekerki. “Jangan-jangan, karena kedua orangtuanya tak pernah berdoa saat berhubungan intim,” ujarnya. Boleh jadi ungkapan ini benar. Sebab, saat itu, sebagaimana hadits di atas, syetan-syetan ikut terlibat di dalam kamar.
Karena itu, berdoalah ketika hendak berjima’ (berhubungan intim). Agar  dapat mengundang berkah Allah SWT, hingga proses hubungan tersebut benar-benar dirdhoi Allah dan mampu menghasilkan putra-putri yang dikaruniai dan diberkahi Allah. Dampaknya, tentu akan menjadi hamba Allah yang shalih dan shalihah.
Merayu Istri
Bercanda sering dilakukan Nabi beserta istrinya Aisyah di saat berduaan. Pakar kesehatan saat ini sering menyebutnya dengan istilah bercumbu atau pembukaan sebelum jima’ (berhubungan seks).
Wanita dikenal memiliki perasaan halus. Ia juga harus diperlakukan sangat halus, bukan dengan cara kasar. Karenanya, tidak layak seorang suami memperlakukan para istri seperti binatang.
Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selalu bercanda, tertawa dan merayu istri-istrinya sebelum berjima’.
Lakukan Dengan Tenang
Biasanya kesibukan sehari-hari, pekerjaan dan beragam tugas lainnya, menjadikan kualitas dan kuantitas interaksi suami istri sedikit terganggu. Namun demikian dalam prose jima’ akan sangat baik jika diberikan waktu yang pas. Jadi, tidak dilakukan dengan tergesa-gesa, namun tetap mengikuti tuntunan nabi, tenang.
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu.” (HR. At-Tirmidzi).
Wanita merupakan makhluk Allalh yang sangat lembut hati dan perasaannya. Ciuman kepada istri merupakan satu hal yang amat didambakan dan dinantikan. Sebab ciuman suami bagi istri sholehah merupakan bentuk kasih sayang yang mampu menenangkan jiwa dan pikirannya. Maka dari itu mencium istri, merayu dan bercumbu dengannya merupakan satu hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh para suami.
Berwudhu
Jika sang suami ingin berjima’ lagi, maka dianjurkan berwudhu terlebih dahulu, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu telah bersetubuh dengan istrinya, lalu ingin mengulanginya kembali maka hendaklah ia berwudhu”. (HR. Muslim).
Aisyah menuturkan:”Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau hendak makan atau tidur sedangkan ia junub, maka beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.” (Muttafaq’alaih).
Larangan Dubur
Haram bagi suami menyetubuhi istrinya di saat ia sedang haid atau menyetubuhi duburnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang melakukan persetubuhan terhadap wanita haid atau wanita pada duburnya, atau datang kepada dukun (tukang sihir) lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Al-Arba`ah dan dishahihkan oleh Al-Alnbani).
Tidak Membuka Aib nya
Haram bagi suami-istri menyebarkan tentang rahasia hubungan keduanya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguh-nya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang lelaki yang berhubungan dengan istrinya (jima`), kemudian ia menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim).
Jangan Tergesa Meninggalkan Istri
Umumnya suami lebih sering mengalami orgasme lebih cepat daripada istri. Namun demikian hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk bersikap egois. Suami juga wajib berusaha agar istri dapat merasakan puncak kenikmatan dalam hubungan intim.
Kemudian agar sedekah yang kita lakukan bersama pasangan kita juga memberikan hasil optimal maka upaya untuk bisa mencapai puncak kepuasan secara bersama-sama merupakan satu hal yang perlu diperhatikan dengan sangat. Bahkan ada yang mengatakan wajib.
Karena pencapaian kenikmatan secara bersama merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai tujuan pernikahan yakni sakinah, mawaddah dan rahmah.
Ketidakpuasan salah satu pihak dalam jima’, jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mendatangkan madharat yang lebih besar, yakni perselingkuhan. Maka, sesuai dengan prinsip dasar Islam, “la dharara wa la dhirar” (tidak berbahaya dan membahayakan), segala upaya mencegah hal-hal yang membahayakan pernikahan yang sah hukumnya juga wajib.
Dengan demikian hal yang wajib dilakukan suami ialah belajar dan berusaha agar sang istri juga dapat merasakan puncak kepuasan. Merupakan satu tindakan yang bisa disebut egois dan dholim apabila suami telah mengalami orgasme kemudian dengan segera ia mengakhiri hubungan tersebut dan bergegas lepas dari pelukan sang isteri.
Tindakan di atas adalah keliru. Sebab keikmatan yang dirasakanoleh istri dalam  jima’ dan sampainya ia pada orgasme, bukan semata-mata terletak pada alat kelaminnya saja. Tetapi ia juga sangat menikmati adanya keterpautan tubuh, bahkan sangat menikmati setiap sentuhan yang terjadi pada organ tubuh luar.
Bahkan yang terpenting dari semua itu adalah istri dapat merasakan adanya cinta dan kasih sayang dari sang suami. Sebab dengan hal itulah istri akan memliki kesiapan mental dalam dirinya untuk mengakhiri hubungan tersebut, bahkan hal itu akan sangat menjadikan istri selalu rindu untuk melakukan hubungan intim.
Oleh karena itu, sangat ditekankan kepada para suami untuk tidak lupa selalu memberikan ciuman kepada istri seketika setelah hubungan berakhir. Selain itu kata-kata yang manis, dekapan yang hangat dari kedua belah pihak akan semakin memperkuat jalinan cinta di antara keduanya.
Beberapa langkah di atas merupakan bagian kecil dari tuntunan Rosulullah saw bagi umatnya untuk memelihara kasih sayang antara suami dan istri.
Dengan demikian, upaya untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddan wa rahmah insya Allah secara perlahan dapat dicapai. Islam itu sempurna, maka raihlah kebahagiaan dengan memahaminya dan mengamalkannya.
Mudah-mudahan kita mengamalkan sunnah Nabi dan meninggalkan tradisi jahilillah yang datangnya dari Barat dan orang kafir.*/Imam Nawawi

Motivasi Karyawan

Jumat, 30 September 2011

Selama ini isu motivasi telah menjadi isu krusial bagi pihak manajemen ketika menghadapi kenyataan bahwa performance karyawan tidak sesuai dengan yang diharapkan di mana penyebabnya bukan karena faktor-faktor kemampuan dari si karyawan (misalnya, keahlian atau kecerdasan) ataupun faktor-faktor lain seperti sarana kerja dan kesempatan. Namun pertanyaan ‘Bagaimana cara memotivasi karyawan?’, pada kenyataannya masih menjadi salah satu pertanyaan terbesar di banyak benak pihak manajemen perusahaan. Akibatnya pihak manajemen harus terus-menerus menyimpan PR isu ini dan ketika berhadapan dengan masalah ini, manajemen mencoba-coba melakukan sesuatu yang hasilnya seringkali tidak memuaskan. Tidak jarang akhirnya manajemen ‘memaksa’ karyawan untuk perform dengan menggunakan basis ‘power’ yang dimilikinya.
Motivasi memang bukan sesuatu yang mudah untuk diambil manfaat praktisnya dan dipraktekkan dalam konteks organisasi karena menyangkut aspek kepribadian terdalam manusia yang terbangun dari latar belakang tumbuh kembang seseorang sepanjang hidup. Apalagi bila pihak manajemen tidak punya cukup pemahaman tentang ilmu perilaku, maka semakin sulit untuk menyelami apa yang dapat membuat seorang karyawan menunjukkan intensitas dan persistensi usaha yang tinggi dalam mencapai goals yang ditetapkan.
Pada awalnya, karyawan hanya dianggap sebagai orang yang memproduksi barang dan jasa. Hal ini mengubah cara berfikir tentang penelitian karyawan berdasarkan Hawthorne Studies, yang dilakukan oleh Elton Mayo dari 1924 ke 1932 (Dickson, 1973). Kajian ini menjelaskan bahwa karyawan tidak hanya termotivasi dengan uang dan prilaku karyawan terkait dengan cara mereka bersikap (Dickson, 1973). Studi tentang Hawthorne dimulai dengan pendekatan hubungan manusia dengan manajemen, dimana kebutuhan dan motivasi karyawan menjadi fokus utama seorang manager (Bedeian, 1993).
Banyak penulis kontemporer yang telah menetapkan konsep motivasi. Motivasi telah ditetapkan sebagai: proses psikologos yang memberikan arah dan tujuan perilaku (Kreitner, 1995); sebuah kecenderungan untuk bersikap untuk mencapai tujuan tertentu, kebutuhan yang tidak ditemui (Buford, Bedeian, & Lindner, 1995); pengendalian internal untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terpuaskan (Higgins, 1994); dan keinginan akan penghargaan (Bedeian, 1993). Untuk masalah ini, motivasi secara operasional didefinisikan sebagai kekuatan batin yang mengendalikan individu untuk menyelesaikan masalah pribadi dan tujuan organisasi.
Mengapa kita harus memotivasi karyawan? Jawabannya adalah kelangsungan hidup (Smith, 1994). Motivasi karyawan diperlukan di sebuah tempat kerja. Memotivasi karyawan membantu organisasi bertahan. Memotivasi karyawan akan membuat perusahaan membuat sebuah hasil kerja yang lebih produktif. Untuk menjadi lebih efektif, manajer harus memahami apa yang akan membuat karyawan termotivasi dengan hal yang tentunya berhubungan dengan peran mereka lakukan. Dari semua fungsi manajer melakukan, memotivasi karyawan adalah yang paling kompleks. Ini karena ada fakta bahwa motif karyawan berbuhah konstan (Bowen & Radhakrishna, 1991). Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang pendapatannya meningkat, menjadikan uang bukan sebagai motivator (Kovach, 1987). Selain itu, karyawan mendapatkan lebih tua, bekerja menjadi lebih menarik untuk dijadikan motivator.

Hubungan Internal

Tentu saja, aspek yang amat penting bagi kesuksesan organisasi adalah karyawan. Sebelum ada hubungan dengan konsumen, pelanggan, lingkungan, investor dan pihak lain di luar organisasi, manajemen harus terlebih dahulu memerhatikan orang2 yang bekerja pada mereka – yakni para karyawan. karena itu, CEO di dalam organisasi sering memandang karyawan mereka sebagai “publik nomor satu” atau “aset organisasi paling penting,” dan mereka berusaha menciptakan “kultur organisasi” yang bisa menarik danmempertahankan karyawan atau pekerja yang produktif. Bagian dari praktik PR ini dinamakan hubungan internal.
Ahhli hubungan internal bekerja di bagian “komunikasi karyawan,” “hubungan karyawan,” atau “hubungan internal.” mereka ini merancang dan mengimplementasikan program komunikasi internal dengan tujuan agar karyawan tetap mendapat informasi baru dan tetap termotivasi, serta menciptakan kultur organisasi. Menurut Jon Iwata, wakil presiden komunikasi di IBM, “Ketika kami berbicara tentang komunikasi karyawan, kami benar-benar memikirkannya dalam term kultur korporat – bagaimana pekerjaan diselesaikan dalam perusahaan kami, bagaimana kami memandang sesuatu yang ada di sini.” dia menunjukan bahwa CEO selalu memainkan peran penting.”CEO harus membuat bisnisnya berjalan dan dilaksanakan, dan untuk itu dibutuhkan karyawan. Agar hasil tercapai, maka karyawan harus bersama anda.”
Menurut Alvie Smith, mantan direktur korporat di Generals Motor, ada dua faktor yang menjelaskan mengapa manajemen menghormati salah satu aspek dari fungsi PR ini :
1. Arti penting pemahaman, teamwork, dan komitmen karyawan dalam mencapai hasil standar. Aspek positif dari perilaku karyawan ini sangat dipengaruhi oleh komunikasi dua arah yang interaktif di seluruh organisasi.
2. Kebutuhan untuk membangun jaringan komunikasi – manajer, jaringan yang membuat setiap supervisor di setiap level bisa melakukan komunikasi secara efektif dengan karyawan. KEbutuhan ini bukan sekedar informasi yanng berkaitan dengan tugas dan harus mencakup publik dan isu bisnis yang memengaruhi kesseluruhan organisasi.
Newsletter telah lama mendominasi karyawan, namun teknologi mengubah metode penyampaian pesan dalam organisasi. Di IBM, misalnya, intranet telah menggantikan grapevine dan supervisor sebagai sumber informasi yang kredibel bagi karyawan.
Staff hubungan internal bekerja sama dengan depertemen SDM untuk mengkomunikasikan berbagai berita, pelatihan, dan topik penting lainnya kepada karyawan. Mereka bekerja sama dengan department legal dalam mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan selama negosiasi kontrak kerja dann pemutusan hubungan kerja. Dan staf hubungan internal juga bekerja sama dengan staf hubungan eksternal uuntuk mengkoordinasikan pesan-pesan sehingga perusahaan mengoordinasikan pesan2 sehingga perusahaan mengemukakan pernyataannya dalam “satu suata”.

Proses Public Relations

Proses Public Relations
Menurut Cutlip and Center, proses kerja PR meliputi :
  1. Fact Finding : Mendefinisikan permasalahan yang dilakukan melalui penelitian dengan menganalisa situasi berupa pemahaman, opini, sikap dan perilaku publik terhadap lembaga.
  2. Planning : Berdasarkan pada rumusan masalah, dibuat strategi perencanaan dan pengambilan keputusan untuk membuat program kerja berdasarkan kebijakan lembaga yang juga disesuaikan dengan kepentingan publik
  3. Communicating : Dalam tahap ini PRO harus mengkomunikasikan pelaksanaan program sehingga mampu mempengaruhi sikap publiknya yang mendorong mereka untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
  4. Evaluating : Tahap ini melakukan penilaian terhadap hasil-hasil pelaksanaan program dari perencanaan, pelaksanaan program, pengkomunikasian, sampai keberhasilan atau kegagalan yang terjadi dari program tersebut.

Manfaat Public Relations

Manfaat Public Relations
Dalam bukunya yang berjudul “Public Relations”, Frank Jeffkins menyebutkan manfaat khusus PR yang meliputi kegunaan PR dalam pengelolaan atau pelaksanaan, antara lain :
  1. Manajemen krisis
Tidak ada satu pun perusahaan yang bebas krisis. Minimal mempunyai resiko mengalami krisis. Maka tim PR yang ada di dalam struktur perusahaan bertugas untuk menyelesaikan krisis yang terjadi dengan serangkaian persiapan dan kesiapan tersendiri.
  1. Penerbitan Desk-top
PR bertanggung jawab atas jurnal internal komputer perusahaan. Oleh karena itu, biasanya perusahaan memiliki bagian internal relations untuk mengurusi hal tersebut.
  1. Identitas perusahaan
Identitas perusahaan merupakan sebuah wahana komunikasi bagi segenap karyawan perusahaan, para pemilik saham, para agen atau dealer, konsumen, lembaga-lembaga keuangan dan berbagai pihak lainnya yang punya kepentingan dan kaitan dengan organisasi. Tim PR adalah bagian yang bertanggung jawab untuk menciptakan dan memelihara identitas sebuah perusahaan.
  1. Hubungan parlementer
PR wajib menjalin hubungan parlementer yang baik. Hubungan parlementer dalam konteks ini adalah hubungan-hubungan antara berbagai organisasi dengan pihak pemerintah, para anggota parlemen, serta para birokrat dari berbagai departemen dan instansi pemerintah. Legistator atau regulator adalah publik yang sangat penting dalam keberlangsungan usaha suatu perusahaan.
  1. PR financial
Sebagai sebuah perusahaan yang telah go public, maka perusahaan memerlukan tim PR yang melakukan kegiatan-kegiatan PR di seputar peristiwa keuangan atau bisnis dalam rangka mendukung rencana perusahaan kliennya untuk memasuki bursa saham atau dalam rangka mendukung peluncuran laporan keuangan tahunan.

Entri Populer

Categories

Visitor

Pengikut

 

Labels 3

Labels 2